Aku
masih menghitungnya, terus menghitungnya
Diantara
senyap, dingin memucuk tubuh
sebab angin yang tak lagi lembut disemilir dan
tanyapun lahir
Menggoda
ku tatkala kantuk mencoba memeluk,
seakan
tak ingin membiarkan diri ini rebah diatas bumi
“Tuhan…..
ya Tuhan, menatap langit mengingatkan diriku akan sang Penguasa”
Wahai
pengasih, sampai di mana aku harus menari bersama romansa keputusasaan
Sampai
dimana lingkaran-lingkaran semu ini berujung
Hingga
langkah ku tak lagi hanya mencipta baying-bayang kegalauan
Dan subuh pun ku jelang, diantara lamat nyanyian surau
Gaib
hati masih terdesak akan tanyaku
Lalu
langkah-langkah kecil menjejak lagi
Meski
hanyamelahirkan baying-bayang dari kegalauan hati
Bahkan
hingga diri berpeluh lusuh tak lagi terasa telah membasah
Aku
hanya berputar, nyata mengitari lingkaran-lingkaran yang tak ku mengerti
bagaimana dan darimana memulainya
Begitu
terus……
Pagi
menjadi siang, malam yang terjelang
Hanya
hamparan langit bagai permadani bermanik hingga pinggirnya
Taburan
cahaya dari sejuta bahkan lebih bintang yang berpendar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar