Senin, 16 Juni 2014

“Hujan”

Tetesan air turun dari langit
Begitu derasnya ia menghampiri bumi
Menyejukan suasana
Membasahi tanah yang kering
Dan penuh syukur kami melihatnya
Begitu baiknya ALLAH Ta’Ala
Memberi kesejukan diantara kekeringan
Merasakannya adalah anugrah

Tapi tak semua manusia bersyukur
Atas hujan yang ALLAH berikan
Mereka mengeluh, mencaci
Tak menghargai karunia Ilahi
Oh tuhan……….
Ampuni kami
Yang tak bersyukur
Yang menghargai pemberian mu



Pendar Bintang

Aku masih menghitungnya, terus menghitungnya
Diantara senyap, dingin memucuk tubuh
 sebab angin yang tak lagi lembut disemilir dan tanyapun lahir
Menggoda ku tatkala kantuk mencoba memeluk,
seakan tak ingin membiarkan diri ini rebah diatas bumi

“Tuhan….. ya Tuhan, menatap langit mengingatkan diriku akan sang Penguasa”
Wahai pengasih, sampai di mana aku harus menari bersama romansa keputusasaan
Sampai dimana lingkaran-lingkaran semu ini berujung
Hingga langkah ku tak lagi hanya mencipta baying-bayang kegalauan

Dan subuh pun ku jelang, diantara lamat nyanyian surau

Gaib hati masih terdesak akan tanyaku
Lalu langkah-langkah kecil menjejak lagi
Meski hanyamelahirkan baying-bayang dari kegalauan hati

Bahkan hingga diri berpeluh lusuh tak lagi terasa telah membasah
Aku hanya berputar, nyata mengitari lingkaran-lingkaran yang tak ku mengerti bagaimana dan darimana memulainya
Begitu terus……
Pagi menjadi siang, malam yang terjelang
Hanya hamparan langit bagai permadani bermanik hingga pinggirnya
Taburan cahaya dari sejuta bahkan lebih bintang yang berpendar


Pendar Bintang

Aku masih menghitungnya, terus menghitungnya
Diantara senyap, dingin memucuk tubuh
 sebab angin yang tak lagi lembut disemilir dan tanyapun lahir
Menggoda ku tatkala kantuk mencoba memeluk,
seakan tak ingin membiarkan diri ini rebah diatas bumi

“Tuhan….. ya Tuhan, menatap langit mengingatkan diriku akan sang Penguasa”
Wahai pengasih, sampai di mana aku harus menari bersama romansa keputusasaan
Sampai dimana lingkaran-lingkaran semu ini berujung
Hingga langkah ku tak lagi hanya mencipta baying-bayang kegalauan

Dan subuh pun ku jelang, diantara lamat nyanyian surau

Gaib hati masih terdesak akan tanyaku
Lalu langkah-langkah kecil menjejak lagi
Meski hanyamelahirkan baying-bayang dari kegalauan hati

Bahkan hingga diri berpeluh lusuh tak lagi terasa telah membasah
Aku hanya berputar, nyata mengitari lingkaran-lingkaran yang tak ku mengerti bagaimana dan darimana memulainya
Begitu terus……
Pagi menjadi siang, malam yang terjelang
Hanya hamparan langit bagai permadani bermanik hingga pinggirnya
Taburan cahaya dari sejuta bahkan lebih bintang yang berpendar